Apakah hutan Indonesia benar-benar “sehat” di tahun 2026?
Di balik klaim keberhasilan pengendalian deforestasi, data terbaru justru menunjukkan cerita yang lebih kompleks—antara harapan pemulihan dan ancaman yang masih nyata.
Kondisi hutan Indonesia memasuki tahun 2026 berada dalam situasi yang tidak bisa disimpulkan secara hitam-putih. Di satu sisi, pemerintah menunjukkan keberhasilan dalam menekan laju deforestasi. Namun di sisi lain, sejumlah indikator masih menunjukkan tekanan terhadap ekosistem hutan yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Kehutanan, luas tutupan hutan Indonesia pada tahun 2024 mencapai 95,5 juta hektare atau sekitar 51,1% dari total daratan. Dari jumlah tersebut, mayoritas berada di dalam kawasan hutan resmi negara.
Namun, angka deforestasi netto pada tahun yang sama masih tercatat sebesar 175,4 ribu hektare. Angka ini merupakan hasil dari deforestasi bruto 216,2 ribu hektare yang dikurangi reforestasi sebesar 40,8 ribu hektare.
Menariknya, sebagian besar kehilangan hutan terjadi di hutan sekunder (92,8%), yang menandakan tekanan terus berlangsung pada kawasan yang sebelumnya sudah terdegradasi.
Pemerintah menyatakan bahwa meskipun terjadi sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya, tren deforestasi masih lebih rendah dibanding rata-rata satu dekade terakhir, sehingga dinilai sebagai indikator keberhasilan kebijakan pengelolaan hutan.
Upaya pemulihan juga terus dilakukan. Sepanjang 2024, rehabilitasi hutan dan lahan mencapai 217,9 ribu hektare, sebagai bagian dari strategi menekan deforestasi dan meningkatkan tutupan lahan.




